Jadi Guru Teladan?
Kadang geli juga saya kalau mengingatnya. Tapi juga kaget dan kurang menerima, meskipun harus menerima dan bersyukur juga.
Sekitar tanggal 15 Februari 2008, saya diminta oleh P Sindu (wakil kepala bidang ketenagaan) untuk mendaftarkan diri sebagai peserta seleksi guru berprestasi tingakat sekolah di SMK 1 Semarang. Katanya sih setiap jurusan diharap mengajukan calon. Hasil seleksi nantinya akan dikirim mewakili SMK 1 Semarang ke tingkat kota, bersaing dengan para juara sekolah dari SMK dan SMA/MA. Nah berhubung saya ketua jurusan Teknik Penyiaran Radio, maka saya pun harus mencalonkan anggota saya tuk maju seleksi guru berprestasi tingkat sekolah. Namun anggota saya hanya 1 yang pegawai negeri yaitu Bu Lilik (sekretaris jurusan saya). Dia malah memilih saya agar saya maju. Kemudian saya menemui Ibu Hasti, koordinator guru Normatif Adaptif di sekolah saya. Ketika dia saya bertanya seputar seleksi guru berprestasi, malah dia mencalonkan saya agar maju mewakili kelompok guru normatif adaptif. Setelah saya bertanya kenapa harus saya, dia menjawab katanya sayalah yang pantas maju. Apalagi dia telah dua kali berturut-turut maju ke tingkat kota semarang tanpa pernah ada hasil yang menggembirakan. Akhirnya saya mengiyakan untuk maju mewakili kelompok guru normatif adaptif, sekaligus mewakili jurusan saya. karena tanggal 22 Februari adalah hari terakhir untuk mendaftar ke tingkat kota Semarang, maka saya nanya perihal siapa yang dikirim mewakili SMK 1 Semarang kepada P Sindu. Meskipun saya cukup yakin bahwa diri saya yang akan dikirim oleh dia, tapi saya mempersilahkan apabila ada teman yang berminat maju ke tingkat Kota. Apalagi B Tutik Rumiatun juga ingin mencoba berkompetisi, saya harus tahu diri. Tapi ketika saya bilang bahwa B Hasti mencalonkan saya, dia malah minder, dan malah mensupport saya agar maju. Nah ketika saya nanya kepada P Sindu, dia menyuruh saya yang mewakili Sekolah. Saya nanya apakah sudah hasil seleksi? Dia menjawab “sudah, P Samiran yang paling baik” katanya. Nah karena saya yang harus maju, maka sayapun harus membawa surat keputusan bahwa sayalah yang dipilih. Maka kasubbag TU P Umadi membuatkan surat pengantar ke Dinas Pendidikan Kota Semarang 22 Februari 2008, dengan menerangkan bahwa sayalah yang pemenang di SMK 1 Semarang. Tapi saya telah mempersiapkan karya tulis dan sertifikat (dalam portofilio) tuk dikumpulkan. Diberitahukan bahwa seleksi akan dilaksanakan taggal 18 dan 19 Maret 2008. Tanggal 18 Maret tes tertulis, sedangkan tanggal 19 maret tes wawncara dan presentasi makalah. Ok saya mempersiapkan diri meskipun tak pernah bisa karena pekerjaan kantor jurusan sangat banyak, apalagi menghadapi Ujian Kompetensi Keahlian di jurusan Teknik Penyiaran Radio, yang dijadwalkan pada tanggal 14 dan 15 Maret 2008. Ya sudah, sesiap siapnya saja.
Nah tanggal 18 Maret jam 07.30 saya datang ke SMK N 4 Semarang tuk mengikuti seleksi tertulis. Stres juga karena saingannya tampak bagus dan kelihatan tokoh juga. Berbekal pasrah pada yang kuasa, sayapun mengerjakan seluruh soal dengan sebisanya. Yah karena banyak yang ngawur juga. Selesai tes ada pengumuman bahwa tes wawancara dan presentasi makalah ditunda tanggal 27 Maret 2008. Yah masih ada waktu tuk mempersiapkan lebih baik, meskipun sama saja.
Tanggal 27 Maret, benar jadi dilaksanakan wawancara dan presentasi makalah. Gila, sampai jam 17.00 dari jam 08.00. Yah karena panitia seleksai kurang mengatur dengan baik urutan majunya, siapa yang ‘ngesrog’ itulah yang maju, maka saya termasuk 5 orang yang maju terakhir, dari 27 orang. Antara uyakin dantidak yakin hasil yang diperkirakan akan muncul. Kalau melihat dari sisi presentasi teman-teman sih saya merasa gak kalah, cukup ‘pede’ dan optimis, meskipun saya gak tahu satu demi satu pesaing saya. Eh tanggal 15 April malam ada kabar bahwa P Subiyanto guru SMA 3 yang menduduki rangkig atas, meskipun tidak nomor 1. Wah bergetar badan saya, dengan bertanya tanya apakah mungkin saya yang nomor satu. Antara yakin dan tidak yakin. Eeeeh tanggal 16 April ada pemberitahuan bahwa saya ‘rangkin 3′. Gak puas sih, tapi yang disyukuri. Matur kepada kepala sekolah tuk minta maaf karena gak bisa menduduki peringkat 1, tapi hanya peringkat 3. Kepala sekolah hanya berkomentar, Eeeh udah bagus itu, lalu dia mengucapkan selamat pada saya, sambil bertanya siapa yang jurara 1 dan 2, yang kemudian saya jawab ‘guru SMA 16 dan SMA 3. Demikian pula saya juga beritahu P Sindu yang mengirimkan saya, perihal juara 3. Diapun sama komentarnya, dah bagus. Yah . . . . mesti hanya tuk ngayem-ngayemi saya.
Tanggal 17 April 2008, saya tidak mengikuti upacaya di sekolah, karena dipanggil Kepala Dinas Pendidikan Kota, tuk menerima pembinaan, dan mestinya penghargaan (di benak saya). Ketika di ruang kepala dinas, kami para juara memang mendapat mengarahan dan janji diberi hadiah uang. Memang benar, setelah dari ruang kepala dinas, saya dan para juara lainnya disuruh masuk di ruang kasubdin Tenaga Teknis, dan mendapat hadial uang, serta surat keputusan walikota tentang juara guru berprestasi. Cukup banyak sih Rp 500.000 potong pajak 15%.